Selasa, 06 Desember 2011

FAHMI MARH, S. Sn


FAHMI MARH, S. Sn
Publiser: Ayurizal. S.Sn
BAB I
    Pendahuluan

A. Latar Belakang
Penelitian yang berjudul “Talempong Unggan: Transformasi  Teks musik Tradisional ke Domain Penggarapan Pentatonik Konvensional”, adalah kajian tentang perubahan musik tradisional, yaitu musik Talempong Unggan keperspektif penggarapan musik yang didasari teori-teori musik konvensional (Musik klasik Barat). Dalam hal penggarapan musik etnis yang berdasarkan konsep yang ada pada masyarakat pemilik Talempong Unggan. Ranah musik Unggan dipilih sebagai materi baru untuk dipindahkan menjadi  musik dalam wilayah penggarapan musik dengan salah satu konsep musik konvensional yaitu, metode ‘penggarapan’ komposisi skala pentatonik dalam ruang lingkup teori komposisi musikologi.
Dengan pengertian, bahwa kreatifitas musik yang menggunakan idiom musikal tradisional dengan konsep estetis yang menekankan pada aspek intuisi, lisan, ritual, dan transendental, dijadikan sebagai idiom yang akan diwujudkan secara kreatif[1] ke pemikiran yang inovatif. Hal tersebut merupakan kemajuan alternatif musik etnis dengan metodologi atau prinsip-prinsip musikologi yang menggunakan budaya literal dengan konsep estetis yang mengutamakan rasionalitas.[2]
Dapat diartikan bahwa, musik tradisional Talempong Unggan dijadikan sebagai kajian musik. Materi tersebut di ubah dengan konteks pemikiran inovatif yang berlandaskan konsep perspektif penggarapan, dalam hal pemindahan musik etnis yang direncanakan dengan menggunakan metodologi[3] yaitu perspektif penggarapan musikologi sebagai kemajuan alternatif musik tradisional. Berkaitan dengan pernyataan tersebut, transformasi teks musik tradisional Talempong Unggan keperspektif ‘penggarapan’ Musikologi diuraikan secara ringkas untuk memberikan gambaran mengenai, Talempong Unggan, Transformasi dan Perspektif Penggarapan Musikologi.
Talempong di Minangkabau memiliki keberagaman bentuk, ukuran, jenis bahan, dan cara memainkan. Boestanoel Arifin Adam (1986) menjelaskan bahwa talempong dapat dimainkan dengan cara duduak (duduk) atau dipacik (dipegang). Khusus mengenai permainan talempong dengan cara dipacik disebut dengan istilah Talempong pacik yang dimainkan oleh tiga pemain dengan memakai teknik Interlocking.[4] Selain teknik Interlocking yang sudah sangat dikenal, ternyata di Minangkabau juga ada teknik permainan lain dari talempong yang dikenal dengan istilah rea (para-para),[5]atau  ancak dari genre Talempong Unggan di desa Unggan kecamatan Sumpur Kudus, sebelumnya adalah kabupaten Sawah Lunto Sijunjuang[6], yang kini telah berubah menjadi kabupaten Sijunjuang dengan ibu kota kabupaten Muaro Sijunjuang[7].
Talempong Unggan dianggap memiliki ciri dan bentuk musikal yang merupakan bagian budaya lisan.[8] Perubahan budaya musik talempong di Unggan terjadi secara alami. Ketika masuk modernisasi[9], kesadaran budaya lisan masih tetap ada, akan tetapi pelaksanaannya untuk melestarikan Talempong Unggan keluar dari daerah Unggan belum banyak ditemukan, sehingga keunikan budaya hanya bertahan di daerah Unggan. Kenyataan demikian dikaitkan dengan pengaruh adat-istiadat Unggan dan hegemoni panghulu yang terlibat langsung mengatur produk budayanya yaitu, musik Talempong Unggan.
Wacana seni  dapat diartikan, berbicara tentang berbagai paradigma atau perspektif yang dimanfaatkan oleh para ahli untuk menganalisis, menafsirkan, memahami, dan menjelaskan tentang fenomena seni salah satunya  musik.[10]Fenomena musik tentang perubahan musik telah menjadi kajian musikologi semenjak awal di Barat, hal ini dapat dilihat dalam tulisanpada buku-buku sejarah musik yang ditulis oleh ilmuan musik dari Barat. Musikologi lahir sebagai upaya untuk memahami substansi musik dan perubahan musik, diawali dari musik abad pertengahan ke periode Renaissance, renaissance ke barok, barok ke klasik, klasik ke romantik, dan romantik ke moderen.[11]
perubahan periode musik tersebut berkaitan langsung dengan perubahan estetika musik yaitu, unsur-unsur fundamental musik, tekstur musik, struktur bentuk musik, sistem nada, melodi dan harmoni, orkestrasi, waktu dan dinamika, meter, media musik, pesan musik, dan fungsi musik.[12]
Adapun prubahan tersebut disebabkan oleh perkembangan intelektual dalam menjelajahi musik dengan cara menganalisis, menafsirkan, dan memahami sehingga melahirkan pemikiran baru untuk menjelaskan kembali tentang perubahan musik dari wariasan masa lampau. Perubahan seperti itu dianalogikan dengan perubahan sebagai kemajuan alternatif. Kemudian, terjadinya perubahan musik juga disebabkan oleh pemain musik disaat memainkan musik untuk pendengar musiknya. Perubahan tersebut adalah perubahan mikro, perubahan musi kterjadi karena pola interaksi musik atau hubungan timbal-balik musisi dan audiens, dengan melihat reaksi musikal musisi dan pendengar musik terhadap kesan musik yang diinterpretasikan dan dilahirkan pemain musik berdasarkan ide dan gagasan setiap repertoar musik. sedangkan perubahan makro disebabkan oleh masyarakat industri Musik.
Kebutuhan untuk memahami perubahan musik yang terus-menerus dari pandangan sejarah ini di implementasikan untuk mengkaji musik dengan cara menganalisis, menafsirkan, dan memahami salah satu alternatif perubahan musik yang terjadi pada salah satu musik etnis Minangkabau di Sumatera Barat yang terdapat di daerah Unggan, kabupaten Sawah Lunto Sijunjuang yang telah dimekarkan menjadi kabupaten Sijunjuang. Musik etnis tersebut adalah jenis musik perunggu Minangkabau yang dikenal masyarakat pada umumnya di Sumatera Barat dengan istilah Talempong Unggan, sedangkan perubahan musik yang dimaksud adalah perubahan yang terjadi pada musik tradisional Talempong Unggan yang terkait dengan musikal etnis atau hal-hal yang berhubungan dengan musik dalam ruang lingkup musik dengan perspektif penggarapan musikologi, seperti unsur-unsur fundamental musik, ide musik, bentuk musik, melodi dan harmoni, sistem nada, dan instrumentasi yang menyangkut transformasi musik etnis menjadi komposisi musik baru dalam perspektif penggarapan musikologi.
Oleh karena Talempong Unggan adalah salah satu produk budaya musik etnis Minangkabau, maka kajian didukung dengan pendekatan ilmu lain selain musikologi, yaitu studi tentang seni musik sebagai cabang khusus dalam kerangka kebudaayaan yang disebut etnomusikologi.[13]Adapun etnomusikologi adalah bidang ilmu yang mengkaji musik-musik etnik dunia dengan penggabungan dua disiplin ilmu, yaitu musikologi dan antropologi.[14]Musik pada dasarnya dapat dipilah menjadi beberapa macam modus sehubungan dengan kriteria peraturan dan standar yang dipergunakan oleh masyarakat pelakunya. Sesuai dengan defenisi kebudayaan modern oleh A. L. Kroeber dan Clyde Kluckhohn: Kebudayaan adalah perangkat peraturan dan standar yang apabila dipenuhi oleh para anggota masyarakat, menghasilkan perilaku yang dianggap layak dan dapat diterima oleh para anggotanya.[15]
Melihat perubahan musikal etnis dengan perspektif  penggarapan musikologi dan etnnomusikologi maka digunakan pemikiran dasar untuk menganalisis, menafsirkan dan memahami perubahan musikal etnis Talempong Unggan. Terutama pada latar belakang dan musikal etnis Talempong Unggan sebagai dasar kajian untuk melihat keaslian musikal Talempong Unggan, kemudian teori musikologi, khususnya perspektif penggarapan komposisi musik sebagai metodologi perubahan  dari keaslian musikal Talempong Unggan.
Pengamatan sementara dari pemikiran logis masyarakat Unggan tentunya mereka mempunyai ide dan gagasan sendiri mengenai perubahan musikal etnis mereka, semenjak musik itu ada ditengah masyarakat Unggan. Ide dan gagasan musikal asli tersebut diwujudkan ke dalam musik yang mereka gunakan berdasarkan ketentuan bermusik yang menggunakan budaya lisan[16] untuk membuat dan mempresentasikan unsur-unsur musik, tekstur musik, bentuk musik dan fungsi musik Talempong Unggan.
Kemudian hal-hal yang berkaitan dengan musik Talempong Unggan ditransformasikan ke perspektif penggrapan Musikologi. adapun tranformasi adalah nomina, yaitu kata benda yang berarti perubahan rupa atau wujud pada bentuk musik, sifat musik dan fungsi musik, sedangkan menurut linguistik, transformasi adalah perubahan struktur gramatikal atau tata bahasa musik Talempong Unggan menjadi struktur tata bahasa dalam perspektif penggarapan musikologi dengan menambah, mengurangi, atau menata kembali unsur-unsur musik yang sudah ada pada ensambel Talempong Unggan.[17] Unsur-unsur musik Talempong Unggan berpidah tempat dari kebiasan tradisional dalam masyarakat Unggan kedalam biasaan musik kenvensional dengan perspektif pengarapan musikologi.
Sedangkan perspektif Penggarapan musikologi adalah, sudut pandang cara mentransformasikan musik etnis dengan mengolah kembali material musikal Talempong Unggan dalam wilayah garapan komposisi musik pentatonik dengan ilmu musik klasik barat. Dapat diartikan sebagai kemajuan alternatif atau pengembangan alternatif musik etnis Talempong Unggan dengan penjelajahan intelektual musik dalam ruang lingkup transformasi musikal ke perspektif penggarapan ilmu musik. Transformasi musikal etnis ke perspektif pengarapan musikologi dirumuskan dalam rumusan masalah.

B. Rumusan Masalah
Masalah pertama bahwa, musik tradisional Talempong Unggan memiliki keunikan aspek musikal dan belum ditemukan pengembangan musikal etnis Talempong Unggan dalam bentuk tulisan penelitian sebagai kemajuan alternatif dalam kajian dari perspektif penggarapan musikologi
Masalah kedua bahwa, Sistem lima nada Talempong Unggan  dapat dikatakan pentatonik, oleh karena lima ton tanpa semi tone ton, dan sistem yang digunakan dalam musik Talempong Unggan berbeda dengan ton dan sistem nada yang ada pada skala diatonis dan pentatonik lain. Talempong Unggan memiliki lima nada dengan ton sendiri yang dapat dikatakan pentatonik.
Masalah yang ketiga bahwa, Musik Talempong Unggan masih asing bagi masyarakat diluar Unggan, karena kesatuan musiknya tidak memiliki disain dramatik musik. Musik Talempong Unggan menggunakan bentuk musik yang berulang-ulang terus menerus yang melahirkan musik monoton.
Masalah keempat bahwa, musik Talempong Unggan sulit berkembang keluar dari daerah Unggan. Musik tradisional Talempong Unggan adalah musik yang terikat oleh ketentuan adat masyarakat Unggan, karena musik Talempong Unggan hanya boleh dimainkan dalam pertunjukan atas seizin datuak atau pemimpin suku-suku yang ada dalam struktur masyarakat Unggan. Karena musik Talempong Unggan hanya untuk musik kebesaran ketika pengangkatan Panghulu, kematian Panghulu, dan sebagai musik hiburan untuk masyarakat Unggan. Disebabkan oleh keterikatan musik dengan ketentuan adat
Ditinjau dari  perspektif musikologi, Talempong Unggan dianggap memiliki karakteristik yang  berbeda dengan musik talempong lain yang ada di daerah Minangkabau. Adapun perbedaan karakteristik musik Talempong Unggan terletak pada aspek musikal. Permasalahan tersebut di atas dirumuskan menjadi pertanyaan:  
1.   Bagaimanakah cara mewujudkan keunikan musikal Talempong Unggan kedalam kajian Transformasi musikal etnis ke perspektif penggarapan Musikologi? 
2.    Alternatif metode yang mana yang akan digunakan ketika menjadikan lima nada Talempong Unggan dapat dikatakan pentatonik sebagai material penggarapan dalam wilayah musikologi?
3.   Bagaimana cara mengolah musik yang tidak memiliki disain dramatik musik menjadi musik yang memiliki disain dramatik musik dan bisa dinikmati bagi masyarakat diluar Unggan?
4.    Apakah alternatif Struktur dan bentuk musik yang digunakan untuk memindahkan musikal Talempong Unggan ke perspektif menggarap musik?
5.   Bagaiamana prospek material musikal Talempong Unggan dalam perspektif penggarapan skala pentatonik?

C.   Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Tujuan penelitian Talempong Unggan: Transformasi teks musik Tradisional ke  perspektif penggarapan pentatonik konvensional:
Pertama, mengumpulkan informasi tentang latar belakang Talempong unggan yang berkaitan dengan musikal masyarakat Unggan.
Kedua, mencari data pokok tentang musikal Talempong Unggan yang berupa musikal asli Talempong Unggan untuk ditransformasikan dengan menggunakan teori musikologi sebagai material garapan dalam skala pentatonik dibawah payung musikologi.
Ketiga, memilih salah satu repertoar Talempong Unggan sebagai material garapan, kemudian memformulasikannya dengan menggunakan salah satu sub teori musik, ilmu musik klasik barat,  skala pentatonik.
Keempat, mentransformasikan musikal Talempong Unggan yang tidak memiliki disain dramtik musik ke perspektif penggarapan musik berdasarkan ketentuan penggarapan skala pentatonik, harmoni, didalam struktur bentuk yang memiliki disain dramatik musik, dengan tetap mempertahankan kesan etnis Talempong Unggan.
Kelima sebagai publikasi musik etnis Talempong Unggan melalui perspektif pengarapan musikologi.
Hasil penelitian Talempong Unggan: Transformasi musikal ke perspektif penggarapan pentatonik dapat digunakan sebagai berikut.
Pertama, supaya seluruh data dan informasi yang berkembang dimasyarakat dalam bentuk kajian musikologi tentang musikal Talempong Unggan lebih aktual, sahih dan komprehensif.
Kedua, memperkaya dengan melestarikan budaya nasional dari sub etnis Minangkabau Talempong Unggan dengan metode musikologi, supaya dapat dikenal  luas.
Ketiga, hasil penelitian dan penggarapan dalam kajian tesis dari idiom musik  tradisional dengan disiplin musikologi, dapat menjadi sumbangan yang bermanfaat bagi jurusan musik, fakultas seni pertunjukan ISI Padangpanjang khususnya minat komposisi musik dijurusan musik ISI Padangpanjang, dalam hal penambahan referensi baru tentang transformasi musik etnis ke perspektif Penggarapan dengan disiplin musikologi.

D. Tinjauan Pustaka
Kepustakaan yang membahas tentang Talempong Unggan sangat terbatas, kebanyakan hanya berupa laporan penelitian, skripsi dan, laporan karya seni tentang Talempong Unggan. Kepustakaan tentang penggarapan “Skala pentatonik” dapat ditemukan pada buku yang telah diterbitkan seperti, sejarah musik, Harmoni, dan analisis musik karya komposer yang menggunakan skala pentatonik.
Tulisan Talempong Unggan yang digunakan sebagai referensi sekaligus sebagai pendukung data dari hasil penelitian.
Laporan penelitian Ichlas Syarief dkk tentang Talempong Unggan Studi deskriptif dan interpretatif di tahun 1993. Laporan ini sangat bermanfaat sebagai perbandingan ukuran nada Talempong Unggan dengan laporan penelitian yang dilakukan peneliti pada tahun yang berbeda. Laporan Ichlas Syarief dkk, menguraikan tentang tangga nada, repertoar Talempong Unggan beserta guna dan fungsi menurut adat. 
Skipsi Erianto menulis tentang “Talempong Unggan Musik Tradisi di Desa Unggan Minangkabau” di tulis sebagai tugas akhir jurusan karawitan di STSI Bandung pada tahun 1998. Tulisan Erianto menguraikan tentang frekwensi nada Talempong Unggan.
Laporan penelitian Zahara kamal tentang Talempong Unggan di Desa Unggan Kecamatan sumpur Kudus Sawah Lunto Sijunjung, kajian musikologis pada tahun 2000.
Judul karya apa? I Nyoman Supenida dan Diana Fatmawati adalah contoh karya yang menggunakan disiplin etnomusikologi.
Buku dengan disiplin Musikologi yang membicarakan tentang skala pentatonik untuk metodologi penggarapan material nada talempong unggan sebagai berikut.
Buku yang ditulis oleh Vincent Persicheti dengan judul Harmony Twentieth Century, creative aspects and practice. Buku ini diterbitkan oleh W.W. Norton & Company. INC. Di New York. Bahasan pentatonik dalam buku ini dijadikan sebagai metode untuk menggarap nada Talempong Unggan.
Buku Hugh M. Miller  edisi ke tiga tentang Music Of History yang diterbitkan Barnes&Noble INC, NY. Tahun 1960.Tulisan yang diambil dalam buku ini adalah Specific Aspects of style tentang New scale Systems.
Buku Thomas Benjamin yang berjudul MusicforAnalisis, edisiketiga Exsamples from the common Practice Period and the twentieth Century. Diterbitkan Wadsworth Publishing Company Belmont, California A Division of  Wadsworth, INC. Tahun 1992. Buku ini digunakan sebagai acuan contoh karya komposer yang menggunakan skala pentatonik, seperti Bartok, Debussy,dan Rimsky Korsakov, Roussel.
Buku Inung K. Ari sasangka, Kamus Skala Melodi, koleksi 1620 skala dari seluruh dunia, termasuk didalamnya mengenai pentatonik.

E. Kerangka Teoritis
Penelitian dan penggarapan dalam tesis ini menggunakan disiplin Musikologi.
Penelitian musik etnis Talempong Unggan dalam hal ini latar belakang dan musikal  musik tradisional Talempong Unggan sebagai sub etnis Minangkabau, digarap dengan menggunakan perspektif penggarapan musikologi. Musikal ditransformasikan dari ketentuan adat ke konteks komposisi musik sebagai kemajuan alternatif dari hasil kreatifitas indivdual.
Teori Budaya,Seni adalah produk budaya, jenis perilaku manusia yang khusus: penggunaan imajinasi secara kreatif manusia untuk menerangkan, memahami, dan menikmati hidup. kemudian seni juga mencerminkan nilai-nilai kebudayaan dan perhatian rakyat. Apabila dikaitkan dengan wacana seni musik dalam perilaku budaya, dapat diartikan sebagai berbicara tentang berbagai paradigma atau perspektif yang dimanfaatkan oleh ahli untuk menafsirkan, memahami, dan menjelaskan tentang fenomena seni salah satunya  musik.
Teori kreatifitas Cziksenmihalyi: “kreatifitas lahir bukan karena kefakuman tapi karena proses”, dalam buku Handbook of creatvity karangan Robert J. Sternberg. Ranah budaya musik tradisional Talempong Unggan yang telah berubah atau ditransformasi ke prspektif penggarapan musikologi, “berproses melalui transmisi informasi ke setiap individu, kemudian menjadi stimulasi orisinalitas ditujukan kepada masyarakat, terjadi seleksi orisinalitas, tahapan akhir kembali keranah budaya atau orisinalitas tinggi”.
Teori transformasi Laplace: Pierre-Simon Laplace adalah “suatu teknik untuk menyederhanakan permasalahan dalam suatu sistem yang mengandung masukan dan keluaran, dengan melakukan transformasi dari suatu domain pengamatan ke domain pengamatan yang lain”. Artinya, material musik Talempong Unggan dapat dimodifikasi atau disusun kembali keperspektif penggarapan musikologi dengan menambah atau mengurang unsur-unsur musik Talempong Unggan.
Teori pentatonik Vincent versicheti, “untuk mencegah kesan harmoni yang monoton maka harus menggunakan nada ornament, pedal point, tregoet modalt interchange atau modulasi ke pentatonik yang lain. Melodi pentatonik sering dengan khord yang asing. Mengkombinasikan tangga nada pentatonik dengan tipe yang lain pada senter yang sama atau berbeda”. Teori tersebut digunakan sebagai cara untuk mengembangkan lima nada Talempong Unggan untuk membuat disai dramatik musik

F. Metode Penelitian
Pengkajian komposisi yang berjudul “Talempong Unggan: Transformasi Musikal Etnis ke perspektif Musikologi” menggunakan metode penelitian kualitatif, menggunakan sumber data sumber tertulis berupa buku dan karya seni, kemudian data sumber audio melalui audio visual dari hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti sebelumnya dan yang dilakukan dengan melalui penelitian langsung. Sedangkan perspektif yang digunakan dalam penelitian adalah gabungan Sejarah, etnomusikologi, musikologi, dan cabang ilmu lain yang dapat memperkuat sebagai referensi penulisan. Untuk menghasilkan suatu penulisan ilmiah yang objektif, maka diperlukan suatu metode yang sistematis dalam pembahasan objek penelitian dan menyusunya dalam bentuk tulisan ilmiah. Teknik pengumpulan data harus disesuaikan dengan sifat penelitian yang digunakan, yaitu penelitian kualitatif. Menurut Bodgan dan Tylor, “Metodologi Kualitatif” sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.[18]
Menurut C. Nelson et al:
Qualitative research is an interdisciplinary, transdisciplinary, and sometimes counterdisciplinary field. It crosscuts the humanities and the social and physical sciences.[19]

Adapun paradigma yang digunakan sebagai landasan pengembangan metodologi penelitian kualitatif adalah 1) Pospositivis, bahwa realita disikapi sebagai fakta yang bersifat ganda, memiliki hubungan secara asosiatif, serta harus dipahami secara alamiah, kontekstual dan holistik. 2)Realitas disikapi sebagai gejala yang sifatnya tidak tetap, dan memiliki pertalian hubungan dengan  masa lalu, sekarang dan yang akan datang. 3)Posmodernis, penelitian ditentukan berdasarkan garis hubungan presensi/teks/realitas, konstruksi/dekonstruki danpemahaman.[20]
Penelitian Talempong Unggan menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut: (1)Penelitian kepustakaan, untuk memperoleh landasan teori untuk penggarapan material. Studi pustaka juga meliputi pengumpulan data tentang musikalTalempong Unggan, Gambar dan notasi musik. (2)Melakukan observasi terhadap objek yaitu nada talempong yang dijadikan objek material penggarapan, melalui rekaman audio visual untuk analisis data dan dokumentasi. (3)Menggunakan metode komparasi untuk menentukan ciri yang fundamental terhadap perbedaan frekuensi nada Talempong Unggan dengan frekuensi nada diatonis. (4)Menggunakan metode wawancara dengan narasumber yang berkaitan dengan kajian tesis ini. (5)Eksperimen material dalam studio dengan teori yang digunakan. Eksperimen telah dilakukan ketika memproses komposisi untuk tugas akhir strata satu (sarjana).

G. Sistematika Penulisan
Penulisan tesis “Talempong Unggan: Transformasi Teks Musik Tradisional ke Perspektif Penggarapan Pentatonik ”  menggambarkan urutan penulisan tesis dengan:
BAB I merupakan pendahuluan yang diklasifikasikan dengan latar belakang, tujuan dan kegunaan penelitian, tinjauan pustaka, kerangka teoritis, metode penelitian, dan sitematika penulisan.
BAB II membahas Talempong Ungggan: Cikal Bakal Sejarah Musik Didasari Cerita Rakyat: Periode Dongson 2500-1500 SM, periode Adityawarman1347-1375, riwayat Unggan, talempong didaerah Unggan.
BAB III mambahas material musik Talempong Unggan sebagai dasar transformasi musikal: Instrumen musik Talempong Unggan, unsur-unsur musik Talempong Unggan, sistem nada Talempong Unggan, bentuk musik Talempong Unggan, dan tekstur musik Talempong Unggan.
BAB IV merupakan kesimpulan, saran dari temuan-temuan penelitian dan hasil pengolahan data penelitian.



[1] Teori kreatifitas Mihalyi Csikszenmihalyi, “kreatifitas lahir bukan karna kefakuman tapi karena proses”, dalam Robert  J. Sterndberg, Handbook of Creativity.(USA: CAMBRIDGE University Press, 1999),3
[2] Agus Sachari, Estetika, Makna, Simbol dan Daya, (Bandung, ITB, 2002), 9
[3] Jacob Sumarjo, FilsafatSeni,  (Bandung: ITB, 2000), 88
[4] Boestanoel Arifin Adam, 1986. “ Talempong Musik Tradisi Minangkabau” Laporan Penelitian. Padangpanjang ; ASKI. p.p 29-30. Dalam makalah Nadia Fauzi, “Dialektika Tungku Tigo Sajarangan dan Tali Tigo Sapilin dalam Konsep Talempong Basaua”.
[5] Mahdi Bahar, Musik Perunggu Nusantara Perkembangan Budayanya DI Minangkabau, (Bandung: Sunan Abu STSI Press Bandung, 2009), 117
[6]Erianto,“Talempong Unggan Musik Tradisi di Desa Unggan Minangkabau”, (Bandung: Skripsi STSI 1998)
[7] Wawancara dengan Erianto tanggal 3 oktober 2010
[8] Dieter Mack, SejarahMusikJilid4, (yogyakarata: Pusat Musik Liturgi)
[9] KBBI 2005,“Modernisasi adalah proses pergeseran sikap dan mentalitas sebagai masyarakat untuk dapat hidup seesuai dengan tuntutan masa kini”.
[10] Heddy Shri Ahimsa-Putra, Ketika Orang Jawa Nyeni (ed), (yogyakarta: Galang press, 2000), 399
[11] Hugh M. Miller,HistoryOfMusic, ( USA: Barnes and Noble, 1960), xii-xiii
[12] Perubahan tersebut dapat dilihat dalam tulisan Sejarah musik, Hugh M. Miller, Dieter Mack
[13] William A. Haviland, alih bahasa R. G. Seokadijo jilid 2, 234
[14] Etnomusikologi adalah gabungan disiplin ilmu, musik dan antropologi
[15] William A. Haviland, alih bahasa R. G. Seokadijo jilid 1, 333
[16] Dieter Mack, SejarahMusikjilid4, (Yogyakarta: Pusat Musik Liturgi, 2009),506
[17] Kamus Besar Bhasa Indonesia, (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Balai Pustaka, 2005)1209
[18] Lexy  J. Moleong, MetodologiPenelitianKualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2001), 3
[19] C. Nelson. P. A. Treichler, dan L. Grossberg, Cultural Studies (New York: Routledge, 1992), 4 dalam Norman K. Denzin, dan Yvonna S. Lincoln, eds. Handbook of qulitative risearch (Thousand Oaks, London, New Delhi: SAGE Publication Inc., 1994), 3-4 dalam Victor Ganap, “Keroncong Toegoe: Sejarah kehadiran Komunitas Dan Musiknya, Dikampung Tugue cilincing, Jakarta Timur”, (Yogyakarta: Disertasi UGM, 2006), 47
[20]Maryaeni, Metode Penelitian Kebuayaan, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2005), 6-9

Yurisman, S.Sn, M.Si

Yurisman, S.Sn, M.Si
Publiser :Ayurizal. S,Sn


LAPORAN PENELITIAN
EKSISTENSI SANGGAR SENI PERTUNJUKAN
DALAM PARIWISATA BUDAYA DI KOTA BUKITTINGGI



BAB. I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

            Kota Bukittinggi sebagai salah satu daerah tingkat II di Propinsi Sumatera Barat, merupakan salah satu daerah tujuan wisata bagi masyarakat daerah sekitarnya, nasional bahkan mancanegara. Sejak tanggal 11 Maret 1984  pemerintahnya  mencetuskan dan menjadikan Bukittinggi sebagai kota pariwisata. Strategi pengembangannya diarahkan kepada kota wisata yang bersifat ‘agamis dan adat’ hal ini sesuai dengan falsafah masyarakat Minangkabau yaitu “Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah “. Pada awalnya yaitu tahun 1984 fasilitas pendukung pariwisata sangat terbatas, namun tekad dan usaha pemerintah Kota Bukittinggi dalam melengkapi fasilitas itu terus berjalan. Perencanaan dalam peningkatan sarana dan prasarana pariwisata tetap direncanakan dan dijalankan, seperti pelayanan wisata pada objek-objek yang menjadi andalan Kota Bukittinggi. Usaha-usaha tersebut merupakan perwujudan motto pariwisata Indonesia yang dikenal dengan ‘sapta pesona’, yaitu aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah dan kenangan (Djohan, 2003:101).
            Kota Bukittinggi yang disebut juga kota wisata, sebagai daerah tujuan wisata sangat didukung oleh sumber daya alam serta aktifitas budaya lainnya. Dengan luas wilayah 25,239 Km2, dikitari oleh gunung, bukit dan ngarai (lembah) menambah indahnya pemandangan  sekitarnya. Kondisi ini yang mendorong masyarakat dari daerah lain terutama propinsi tetangga seperti Riau, Jambi, Sumatera Utara, Sumatera Selatan dan daerah lainnya datang ke daerah ini untuk berwisata. Sarana dan prasarana lain yang mendukung Bukittinggi sebagai kota wisata adalah adanya pusat-pusat wisata budaya di sekitarnya seperti bangunan bersejarah, pasar dan sentra kerajinan tradisional, museum, dan tempat/gedung pertunjukan kesenian tradisional.
            Untuk menghidupkan sektor pariwisata, ada lima bentuk wisata yang dikembangkan pemerintah kota Bukittinggi yaitu : wisata sejarah, wisata budaya, wisata alam, wisata konferensi dan wisata ‘pulang basamo’ (Djohan, 2003:102). Wisata sejarah mengetengahkan sejarah Bung Hatta, sejarah Jepang, sejarah perjuangan Tuangku Imam Bonjol dengan Belanda dan kerajaan Pagaruyung yang terletak tidak jauh dari Bukittinggi. Wisata budaya memunculkan budaya matriakat dengan rumah gadang, seni budaya Minangkabau, seni kerajinan khas Minangkabau dan seni pertunjukannya. Wisata alam, dengan mengajak wisatawan menikmati alam pegunungan, ngarai  Sianok dan danau Maninjau yang tidak jauh dari Bukittinggi. Wisata konferensi merupakan wisata yang baru dikembangkan, yaitu dengan memberikan peluang atau fasilitas untuk lembaga atau organisasi yang ingin melakukan pertemuan. Wisata ‘pulang basamo’, adalah paket wisata yang dilaksanakan oleh masyarakat Minangkabau yang ada diperantauan untuk pulang kekampung secara bersama. Dalam pulang basamo ini biasanya para perantau akan mengadakan acara yang menampilkan tari-tarian dan musik tradisional Minangkabau dengan mengundang sanggar seni pertunjukan untuk melepas rindu selama mereka berada di kampung halaman.
            Sesuai dengan judul penelitian ini yaitu “Eksistensi Sanggar Seni Pertunjukan Dalam Pariwisata Budaya di Kota Bukittinggi”. Maka tulisan ini akan difokuskan pada kajian tentang eksistensi sanggar seni pertunjukan dalam pariwisata budaya di Kota Bukittinggi, khususnya eksistensi sanggar seni yang mengadakan pertunjukan di Gedung pertunjukan Medan Nan Balinduang.
Berdasarkan keputusan Walikota Bukittinggi No. 03 tahun 2002 tanggal 5 maret 2002 tentang pembentukan Kantor Pariwisata Seni dan Budaya yang mewadahi otonomi daerah dibidang pariwisata, maka disusunlah Rencana Strategis (Renstra) Kantor Pariwisata  Seni dan Budaya Kota Bukittinggi tahun 2002 – 2005. Penyusunan rencana strategis ini dimaksudkan untuk terciptanya komitmen dalam rangka mendorong partisipasi dan peran serta seluruh jajaran dan unsur masyarakat Kota Bukittinggi. Perumusan Visi dan Misi merupakan tujuan yang terluas dan terumus yang akan dicapai dan berperan untuk memberikan arah dan pedoman untuk terciptanya keterpaduan, kebersamaan dan tanggung jawab. Sekaligus renstra ini dimaksudkan untuk dapat memberikan dorongan, motivasi, pengembangan inisiatif dan kreativitas untuk mencapai keberhasilan. Kemudian berdasarkan visi  pembangunan pariwisata Kota Bukittinggi yaitu  : mewujudkan Kota Bukittinggi menjadi daerah tujuan wisata utama Indonesia Bagian Barat dengan menonjolkan aspek lokalitas (Adat, Agama, Seni dan Budaya daerah) serta sebagai Home base daerah tujuan wisata lainnya di Sumatera Barat dan Sumatera, baik untuk skala nasional maupun internasional dengan memiliki daya kompetitif yang tinggi, sedangkan misinya adalah : 
1.      Peningkatan pendapatan perkapita  masyarakat, PAD dan devisa Negara
2.      Peningkatan kualitas sumber daya manusia  (SDM)
3.      Pembangunan pariwisata yang berwawasan dan ramah lingkungan
4.      Penciptaan standarisasi produk pelayanan wisata
5.      Mendorong partisipasi dan dukungan kelembagaan
6.      Pemberdayaan kemampuan seluruh komponen pendukung pariwisata (Renstra Kantor Pariwisata Seni dan Budaya Kota Bukittinggi, 2002-2005:1-2).
            Merujuk kepada Renstra, Visi dan Misi tersebut di atas, tampaknya apa yang sudah direncanakan dalam renstra oleh Kantor Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kota Bukittinggi tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan, antara rencana yang sudah ditetapkan dalam renstra  dengan pelaksanaannya di lapangan tidak sinergi. Hal ini menyebabkan kesenjangan dalam setiap pembangunan yang dilakukan, kesenjangan ini dapat dilihat pada aplikasinya di lapangan. Dalam aplikasinya ditemukan kendala-kendala dan permasalahan yang rumit dan hal ini menarik untuk dikaji lebih lanjut.
Berdasarkan pengamatan dan hasil wawancara yang dilakukan dengan pelaku pariwisata, terutama yang bergerak dalam bidang seni pertunjukan, ditemui beberapa masalah dalam usaha untuk melakukan dan meningkatkan pengembangan sektor pariwisata di Kota Bukittinggi di antaranya adalah : masih kurangnya sumber daya manusia (SDM) yang profesional untuk mengelola pariwisata; sosialisasi dan promosi tentang potensi kepariwisataan khususnya wisata budaya sangat kurang; manajemen pengelolaan pariwisata belum baik; penataan objek-objek tujuan wisata belum memadai; dan pembinaan terhadap sanggar-sanggar seni belum maksimal. Hal ini sesuai dengan keterangan Yuliana Rahmadeni, 35 tahun, Pimpinan sanggar Saayun Salangkah (wawancara, 27 Februari 2010), mengatakan bahwa mereka para seniman sebagai pekerja seni yang bekerja dan tergabung dalam sanggar-sanggar seni pertunjukan belum mendapat perhatian dan pembinaan yang serius dari pemerintah, apalagi bantuan untuk modal usaha, bahkan karena kekurangan modal ada diantara pemilik sanggar yang terpaksa menjual sanggarnya kepada orang lain. Padahal kontribusi mereka terhadap pariwisata budaya khususnya seni pertunjukan dalam mengisi dan meramaikan kota Bukittinggi sebagai daerah tujuan wisata nasional dan internasional sangat besar.
            Di Kota Bukittinggi terdapat 16 buah sanggar seni pertunjukan, tetapi hanya 5 buah sanggar seni pertunjukan yang aktif dalam mengisi acara setiap malamnya di Gedung Pertunjukan Medan Nan Balinduang. Tapi sarana dan prasarana gedung tidak tertata dengan baik sebagaimana layaknya sebuah gedung pertunjukan. Mereka sudah membagi jadwal pertunjukan setiap malamnya dan sudah punya komitmen dalam hal jumlah pembayaran/ harga minimal yang harus dibayarkan oleh sipemakai jasa. Ironisnya karena faktor ekonomi, diantara pemilik sanggar ada yang mengingkari kesepakatan yang sudah dibuat, seperti masih menerima uang jasa dibawah ketentuan yang sudah disepakati bersama. Akibatnya,  persaingan yang tidak sehat terjadi di antara mereka,  Keadaan ini sampai sekarang masih dibiarkan oleh pemerintah dalam hal ini Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kota bukittinggi.  
Uraian di atas memperlihatkan bahwa sektor pariwisata merupakan salah satu bidang yang memiliki peran strategis tidak saja bagi pengembangan daerah tetapi juga untuk memajukan perekonomian masyarakat. Sektor ini dapat menyerap tenaga kerja pada berbagai lini dengan jumlah besar. Fenomena ini juga dapat dicermati pada sektor pariwisata di Bukittinggi. Di satu sisi, daerah ini memiliki kawasan pariwisata dan seni budaya yang sudah terkenal sejak lama. Pemerintah daerah telah pula membuat renstra serta mencanangkan visi dan misi pembangunan pariwisata. Namun demikian, di sisi lain renstra serta visi dan misi yang telah dicanangkan belum berjalan sebagaimana yang diharapkan. Dengan demikian, tentu saja ada sesuatu yang kurang berjalan dan kurang berfungsi terkait dengan pengembangan sektor pariwisata di Kota Bukittinggi. Oleh sebab itu, penelitian ini dengan judul sebagaimana dikemukakan di atas perlu dilakukan dalam upaya mencari jawaban terhadap kendala-kendala yang dihadapi berkaitan dengan sektor pariwisata budaya terutama eksistensi para seniman yang tergabung dalam sanggar-sanggar seni pertunjukan di Kota Bukittinggi.
     
B. Rumusan Masalah
            Berdasarkan fenomena-fenomena eksistensi sanggar seni pertunjukan dalam pariwisata budaya di Kota Bukittinggi, sebagaimana yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan beberapa masalah yang dikemas dalam bentuk pertanyaan yaitu :
1.      Bagaimanakah eksistensi sanggar seni pertunjukan dalam pariwisata budaya di kota Bukittinggi ?
2.      Apakah fungsi sanggar seni pertunjukan dalam pariwisata budaya di Kota Bukittinggi ?
3.      Apakah materi acara yang ditampilkan oleh sanggar-sanggar seni pertunjukan dalam pariwisata budaya di Kota Bukittinggi ?

C. Tinjauan Pustaka

            Sebelum mengerjakan penelitian ini, terlebih dahulu penulis melakukan  tinjauan kepustakaan dengan tujuan untuk mencari dan mempelajari  literatur-literatur yang ada kaitannya dengan obyek bahasan dalam penelitian ini yaitu bagaimana eksistensi, fungsi, dan materi acara yang ditampilkan oleh sanggar seni pertunjukan dalam pariwisata budaya di kota Bukittinggi. Kemudian meninjau beberapa hasil penelitian dari orang-orang terdahulu yang sudah melakukan penelitian berkaitan dengan topik penelitian yang akan dilakukan nantinya, hal ini dilakukan supaya tidak terjadi tumpang tindih terhadap objek kajian.
            Dari kajian kepustakaan didapat beberapa tulisan tentang permasalahan-permasalahan yang ada kaitannya dengan eksistensi sanggar seni pertunjukan dalam pariwisata budaya di Kota Bukittinggi seperti :
            Djohan Dkk (2003) dalam bukunya “ Bukittinggi dan Pariwisata, Perspektif Ketenagakerjaan “. Bentuk dari penulisannya merupakan bunga rampai dari isu ketenagakerjaan sektor pariwisata di Sumatera Barat khususnya Kota Bukittinggi, dengan lingkup pembahasan dari beberapa aspek, yaitu aspek ekonomi, demography, sosial dan budaya. Keempat aspek pembahasan tersebut dituangkan kedalam lima bagian penulisan, dengan rincian : Bagian pertama, merupakan pembahasan secara umum tentang pengembangan kepariwisataan di Sumatera Barat seperti karakteristik obyek wisata, wisatawan, dan aspek pendukung pariwisata seperti hotel/restoran, biro perjalanan, dan pemandu wisata. Bagian kedua, Membahas pariwisata di Kota Bukittinggi yang dilihat dari aspek ekonomi, yang dijelaskan dalam lingkup peran sektor pariwisata dalam kegiatan ekonomi Kota Bukittinggi. Sedangkan dari aspek ekonomi ketenagakerjaan dilihat berdasarkan tingkat profesionalisme tenaga kerja sektor pariwisata. Bagian  ketiga, melihat kualitas tenaga kerja sektor pariwisata di Kota Bukittinggi dari aspek demography. Pembahasan dalam bagian ini menganalisis tingkat pendidikan, yang ditamatkan, aspek mobilitas dan proses penyiapan tenaga kerja sebagai indikator pokok dalam melihat kualitas pekerja dari aspek demography (jumlah dan perkembangan penduduk). Bagian keempat, merupakan pembahasan dari aspek sosial yang melihat hubungan jaringan kerja antara pelaku industri pariwisata. Pembahasan tentang hubungan /jaringan kerja para pelaku industri pariwisata dibedakan dalam tiga hubungan yaitu; hubungan kerja dalam industri pariwisata budaya, industri pendukung pariwisata dan jaringan kerja pemerintah dan masyarakat (termasuk LSM). Bagian kelima, yang merupakan bagian akhir dalam tulisan ini membahas aspek kualitas tenaga kerja pariwisata dilihat dari dimensi budaya Minangkabau. Dalam kaitan ini, aspek budaya dihubungkan dengan pandangan hidup seseorang yang melatar belakangi asal usulnya, termasuk arti kerja, serta filosofi kehidupan masyarakat Minangkabau yang dinilai sangat mempengaruhi praktek kehidupan masyarakat di Kota Bukittinggi dalam melihat pariwisata sebagai bagian dari hidup mereka.
            Kasman (2005) dalam tesisnya “ Pertunjukan Kesenian Tradisional Kemasan Dalam Pengembangan Pariwisata di Bukittinggi”. Dalam penelitiannya membahas secara deskriptif permasalahan bentuk pertunjukan kesenian tradisional kemasan, fungsi pertunjukan kesenian tradisional kemasan dalam pengembangan pariwisata di Bukittinggi dan makna pertunjukan kesenian tradisional bagi perkembangan pariwisata budaya serta bagi masyarakat dan budaya Minangkabau.
            Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa industri pariwisata budaya sebagai ujung tombak pengembangan pariwisata di Bukittinggi dan menjadikan kesenian tradisional sebagai salah satu unsur industri yang menjadi bagian dari industri pariwisata. Dalam proses industri ditemui beberapa kendala dan kesenjangan yang terjadi dalam proses berintegrasi antar institusi pariwisata, komponen pariwisata dan pelaku budaya (seniman). Adanya perbedaan sikap dan pemahaman dalam industri yang berorientasi pada bisnis dan ekonomi, dalam industri pariwisata tersebut ada pihak yang diuntungkan dan pihak yang dirugikan. Hasil penelitian merumuskan bentuk pertunjukan kesenian tradisional kemasan, mengetahui fungsi pertunjukan kesenian tradisional kemasan serta melihat makna dari pertunjukan kesenian tradisional kemasan bagi masyarakat, budaya dan perkembangan pariwisata di Bukittinggi.
            Hasanudin (1999) dalam tesisnya “ Clean Tourism, Konflik, dan Komformitas. Studi Kasus Kepariwisataan di Maninjau Sumatera Barat”. Masalah yang dikaji dalam tesis ini mengenai kebijakan clean tourism pada kenyataannya didasari oleh konflik internal antara kekuatan, tuntutan, kebutuhan dan kepentingan yang disatu pihak mendukung kebijakan pengembangan pariwisata di Sumatera Barat; sementara dilain pihak ada pula kekuatan, tuntutan, kebutuhan dan kepentingan untuk menolak kebijaksanaan pengembangan pariwisata di Sumatera Barat. Dengan dasar itu, kebijakan clean tourism diasumsikan sebagai bentuk komformitas dari konflik-konflik yang mendasari kebijaksanaan pengembangan kepariwisataan di Sumatera Barat.
            Dalam tesis ini juga menjelaskan ada dua faktor tuntutan yang secara implisit terakomodasi dalam kebijakan kepariwisataan pemerintah Sumatera Barat. Tuntutan tersebut berbasis pada tingkat kesejahteraan ekonomi masyarakat yang rendah disatu pihak, dan persepsi buruk masyarakat terhadap pariwisata dipihak lain. Dualitas tuntutan tersebut mengakibatkan terjadinya konflik-konflik, dan kebijakan clean tourism itu sendiri merupakan suatu konsensus; sebagai wujud dari komformitas. Konsensus tidak serta merta menghilangkan konflik-konflik. Konflik-konflik kreatif tidak saja ada, akan tetapi diperlukan untuk menggiring konsensus politik tersebut ketaraf sintesis kultural. Fenomena tersebut merupakan realitas, dan memiliki validitas korelasional secara historis dan filosofis dengan konflik antara adat dan agama Islam, sejak awal intergrasinya pada abad ke 16, dan selama proses panjang dan lamban integrasi keduanya hingga kini.
            Tulisan-tulisan tersebut di atas, jauh berbeda dengan tulisan yang penulis ajukan dalam penelitian ini. Hal ini terlihat pada permasalahan yang akan dikaji yakni bagaimana eksistensi, fungsi, dan materi acara yang ditampilkan oleh sanggar seni pertunjukan dalam pariwisata budaya di kota Bukittinggi.
D. Landasan Teori
Landasan teori yang dipakai dalam penelitian eksistensi sanggar seni pertunjukan dalam pariwisata budaya adalah sebagai berikut :
 Pitana, IGde dan Gayatri, Putu G. dalam bukunya Sosiologi Pariwisata. Menyatakan teori fungsionalisme-strukturalisme melakukan analisis dengan melihat masyarakat sebagai suatu ‘ sistem ‘ dari interaksi antar manusia dan berbagai institusinya, dan segala sesuatu disepakati secara konsensus, termasuk dalam hal nilai dan norma. Beberapa asumsi pokok teori fungsionalisme-strukturalisme adalah sebagai berikut :
1.      Masyarakat sebagai sistem sosial, terdiri dari bagian-bagian (subsistem) yang interdependent. Masing-masing bagian mempunyai fungsi-fungsi tertentu, yang berperan menjaga eksistensi dan berfungsinya sistem secara keseluruhan.
2.      Setiap elemen atau subsistem harus dikaji dalam hubungan dengan fungsi-fungsi dan perannya terhadap sistem, serta dilihat apakah subsistem tersebut berfungsi atau tidak, dilihat dari akibat yang ditimbulkan oleh perilaku suatu subsistem. Jadi yang dilihat adalah fungsi real, bukan fungsi “yang seharusnya”.
3.      Kalau suatu sistem dapat mempertahankan batas-batasnya, maka sistem tersebut akan stabil.
4.      Berfungsinya masing-masing bagian (subsitem) dalam suatu sistem, akan menyebabkan sistem ada dalam equilibrium. Masyarakat yang equilibrium adalah masyarakat yang stabil, normal, karena semua faktor saling bertentangan telah melakukan keseimbangan (Talcott Parsons).
5.      Apabila terjadi disfungsi pada suatu bagian, maka  akan terjadi kondisi yang abnormal, sehingga keadaan equilibrium terganggu (Merton,1957). Tetapi berfungsi atau disfungsinya suatu elemen sosial pada akhirnya akan menghasilkan equilibrium baru, dalam proses self regulation (Mennel,1980).
6.      Masing-masing elemen sosial mempunyai fungsi manifest adalah fungsi yang diharapkan, sedangkan fungsi latent adalah fungsi yang tidak dirancang, tidak diharapkan, atau tidak disadari (Merton,1957).
            Teori ini dapat digunakan untuk melihat struktur-struktur yang ada dalam pemerintahan, serta fungsi masing-masing struktur dari pengelola pariwisata di Kota Bukittinggi.
Selanjutnya dalam penelitian ini juga digunakan beberapa teori hegemoni.      Teori ini digunakan untuk melihat bagaimana dominasi pemerintah dalam hal ini Dinas Pariwisata Seni dan Budaya terhadap sanggar-sanggar seni pertunjukan yang ada di Kota Bukittinggi.  Diantara teori tersebut adalah sebagai berikut :
            Menurut Gramsci (dalam Tilaar, 2003:77), hegemoni adalah kondisi sosial dalam semua aspek kenyataan sosial yang dinominasi atau disokong oleh kelas tertentu. Selanjutnya bagi Gramsci (dalam Barker, 2004:62), hegemoni berarti situasi dimana suatu ‘blok historis’ faksi kelas berkuasa menjalankan otoritas sosial dan kepemimpinan atas kelas-kelas subordinat melalui kombinasi antara kekuatan, dan terlebih lagi, dengan konsensus. Jadi praktik normal hegemoni diarena klasik rezim parlementer dicirikan dengan kombinasi kekuatan dan konsensus, yang secara timbal balik saling mengisi tanpa adanya kekuatan yang secara berlebihan memaksakan konsensus. Sesungguhnya, usahanya adalah untuk memastikan bahwa kekuatan tersebut akan tampak hadir berdasarkan atas konsensus mayoritas yang diekspresikan oleh apa yang disebut dengan organ opini publik. Suatu blok hegemoni tidak pernah terdiri dari kategori sosial-ekonomi tunggal, namun dibentuk melalui serangkaian aliansi dimana suatu kelompok berposisi sebagai pemimpin (penguasa). Gramsci mendefenisikan hegemoni sebagai ‘proses berkelanjutan pembentukan dan penggulingan keseimbangan yang tidak stabil antara kepentingan kelompok-kelompok yang fundamental dan kepentingan kelompok subordinat, keseimbangan dimana kepentingan kelompok dominan hadir, namun hanya pada batas-batas tertentu.
            Menurut Strinati (2003:190), teori hegemoni Gramsci mengemukakan bahwa kelompok-kelompok subordinat menerima gagasan, nilai-nilai maupun kepemimpinan kelompok dominan tersebut bukan dikarenakan secara fisik atau mental mereka dibujuk untuk melakukannya, juga bukan dikarenakan mereka  diindoktrinasi secara ideologis, tapi karena mereka punya alasan-alasan tersendiri. Menurut Gramsci hegemoni diamankan, misalnya karena konsesi dibuat oleh kelompok dominan terhadap subordinat. Kebudayaan yang dibangun dengan hegemoni ini akan mengekspresikan kepentingan kelompok-kelompok subordinat tersebut.

E. Tujuan dan Kontribusi Penelitian
     a. Tujuan Penelitian
 Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, ada tiga tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu :
1.      Untuk mengkaji bagaimanakah eksistensi sanggar seni pertunjukan dalam pariwisata budaya di kota Bukittinggi.
2.      Untuk mengkaji apakah fungsi sanggar seni pertunjukan dalam pariwisata budaya di Kota Bukittinggi.
3.      Untuk mengkaji apakah materi acara yang ditampilkan oleh sanggar-sanggar seni pertunjukan dalam pariwisata budaya di Kota Bukittinggi.
b. Kontribusi Penelitian
          Ada beberapa kontribusi dari penelitian ini yaitu :
1.      Secara teoretis adalah untuk mengembangkan cakrawala keilmuan dibidang pembangunan pariwisata khususnya yang berhubungan dengan eksistensi sanggar seni pertunjukan dalam pariwisata budaya di Kota Bukittinggi.
2.      Secara praktis adalah untuk dapat dipakai sebagai bahan pemikiran dan pertimbangan bagi para penentu kebijakan dan pengambil keputusan,  terutama pemerintah daerah dalam mengelola aset-aset pariwisata khususnya wisata budaya di Kota Bukittinggi.
Bermanfaat untuk peneliti lainnya yang akan mengkaji berbagai permasalahan pariwisata budaya di Kota Bukittinggi.