Selasa, 06 Desember 2011

MATERI PENGABDIAN PADA SMAN I X KOTO KABUPATEN TANAH DATAR



Penulis : SYAFNIATI S.Sen M.Sn

Publisher : Ayurizal.S.Sn

MATERI PENGABDIAN PADA SMAN I  X KOTO KABUPATEN TANAH DATAR




JUDUL
MENGENAL BERBAGAI MUSIK TRADISIONAL MINANGKABAU



O
L
E
H

SYAFNIATI S.Sen M.Sn
NIP 19610911 198603 2001


DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
INSTITUT SENI INDONESIA (ISI) PADANGPANJANG
2010

MATERI PENYULUHAN TENTANG PENGETAHUAN MUSIK MINANGKABAU PADA SISWA SMAN I X KOTO KAB. TANAH DATAR
Oleh : SYAFNIATI S.Sen M.Sn[1]
I
PENDAHULUAN

ISI  (Institut Seni Indonesia ) Padangpanjang merupakan salah satu Perguruan Tinggi Seni di Indonesia yang mempelajari beragam-ragam kesenian Nusantara yaitu, kesenian Tradisonal Minangkabau, Melayu,   Jawa, Sunda, Bali, Batak dan lain sebagainya. Di samping itu juga mempelajari berbagai macam seni kerajinan seperti seni lukis, anyaman, keramik, pertukangan, desain serta fotografer dan perfilman.
Ada tujuh jurusan seni di ISI Padangpanjang yaitu, Seni Karawitan, Tari, Musik Barat, Teater, Kriya, seni Murni dan Televisi. Masing-masing jurusan akan menekuni bidangnya sendiri-sendiri seperti seni Karawitan akan berkecimpung dalam pertunjukan musik-musik daerah  baik musik daerah Minangkabau maupun daerah Nusantara lainnya seperti musik Melayu Sumatera, Batak, Sunda, jawa, Bali. Begitu juga dengan tari, seperti tari Melayu. Jawa, Batak, Bali dan sebagainya. Sedangkan jurusan musik Barat lebih mendalami tentang musik Barat itu sendiri seperti memainkan gitar, piano, flut, dram dan sebagainya. Jurusan teater lebih mendalami seni tentang teater, bagaimana menjdi seorang sutdradara yang baik, membuat naskah baik tradisional maupun modern. Begitu juga dengan jurusan seni Kriya, Seni Murni yang mendalami tentang kerajinan mulai seni anyaman, keramik lukis, pertukangan dan lainnya. Sedangkan seni televisi akan mendalami ilmu dalam perfilman, kameramen dan sebagainya. Walaupun demikian semua jurusan  selalu saling terkait dalam satu kampus dibawah Kementerian Pendidikan Nasional. Jadi dari masing-masing jurusan akan mendalami ilmu pengetahuan menurut keahlian masing-masing baik dalam bentuk teori maupun prakteknya yang diajarkan oleh dosen-dosen yang ahli menurut bidang masing-masing..
Secara singkat tentang latar belakang kehadiran ISI di Padangpanjang. Sebelum ISI ini berdiri masyarakat mengenal dahulunya dengan nama ASKI (Akademi Seni Karawitan Indonesia) yang diresmikan tahun 1966 , kemudian tahun 1999 ASKI berubah menjadi STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia), dan pada tanggal 17 Juli 2010 STSI berubah lagi menjadi ISI (Institut Seni Indonesia).
Adapun tamatan dari STSI atau ASKI banyak yang telah berhasil dalam masyarakat ada yang menjadi PNS, Seniman dan juga menjadi Dosen baik dalam lingkungan kampus sendiri maupun di tempat-tempat lainnya selama para alumni tersebut mau dan manpu berkreativitas. Selaim itu juga ada yang jadi seniman yang telah mengadakan pertunjukan karyanya ke beberapa daerah dan juga luar dan dalam Negeri, seprti di Wilayah Indonesia, Jepang, Malaysia, Neuzelan belanda dan sebagainya
Jadi kepada siswa-siswa SLTA yang akan menamatkan sekolahnya dan akan melanjutkan ke tingkat Perguruan Tinggi, kami dari ISI siap melayani dari berbagai jurusan yang diinginkan. Dan bagi mahasiswa yang mempunyai prestasi yang bagus disediakan bea siswa dan bagi mahasiswa yang kreatif mereka sering diikut sertakan dalam acara  festival-festival  dan pergelaran-pergelaran seni baik di dalam daerah maupun luar Negeri. Selain itu tamatan ISI juga dapat menjalin kerja sama dengan mancanegara dan pariwisata dan juga ada yang menjadi profesional dibidang keilmuan masing-masing.. Oleh sebab itu kesungguhan dari para mahasiswa sangat dituntut agar setelah menyelesaikan studi dapat menghasilkan kretifitas sendiri.
Sebagai informasi untuk sekolah SMAN I Kec. X Koto, ISI pun dapat menerima calon mahasiswa melalui PMDK ataupun dari beberapa siswa yang mempunyai keahlian atau keterampilan yang menonjol terutama di bidang kesenian. Sebagai informasi awal saya cukupkan demikian mudah-mudahan dari tamatan SMAN I  Kec. X Koto mempunyai minat untuk masuk Perguruan Tinggi ISI Padangpanjang pada piode tahun 2011 nanti













II
MENGENAL BERBAGAI KESENIAN TRADISIONAL MINANGKABAU

Di Minangkabau banyak sekali jenis kesenian tradisional, ini merupakan salah satu ciri kebudayaan masyarakat pendukungnya. Bahwa orang Minangkabau hidup dalam lingkungan masyarakat yang mempunyai adat istiadat yang telah diatur oleh undang-undang Nagari. Kesenian merupakan bahagian dari upacara adat. Di antara kesenian tradisisional Minangkabau adalah musik karawitan (musik daerah), tari, pencak silat, randai dan lain sebagainya.
Adapun jenis musik tradisional Minangkabu adalah  jenis alat perkusi, tiup, petik, dan jenis gesek. Selain itu vokal juga sangat mempunyai peranan yang penting dalam pertunjukan kesenian.
Jenis-jenis alat perkusi adalah; talempong (talempong pacik, talempong kreasi, talempong duduk, talempong kayu, talempong batuang atau sembilu, talempong jao dan sebagainya), Gandang (tambur, indang, marwas, rapa’i, tasa, gandang sarunai dan sebagainya. Sedangkan jenis alat tiup meliputi: saluang dengan segala jenisnya (saluang darek, saluang panjang atau dikenal dengan saluang Sungai Pagu, saluang sirompak, saluang pauh, sampelong),  bansi, sarunai, pupuik batang padi, dan pupuik tanduak. Jenis alat petik seperti genggong dan jenis alat gesek seperti rebab ( rebab darek, rebab pesisir dan rebab Pariaman).
Selain musik tradisional itu dendang juga mempunyai peranan yang dominan dalam masyarakat Minangkabau. Dendang ini juga terbagi beberapa macam ada dendang gembira yang mempunyai ritmis, ada dendang sedih atau ratok dan juga ada dendang kaba. Dalam pertunjukannya dendang biasanya diiringi dengan musik lain seperti saluang, rebab, indang, dan dendang randai. Dalam kesenian randai mengandung beberapa unsur seni yaitu dendang, musik talempong, gerak, silat, drama.
Selain itu di Minangkabau juga terdapat kesenian yang bernuansa Islam seperti kesenian salawat dulang, Dikia rabano dan indang. Dalam syair-syair atau teks lagu kesenian ini mengandung pengajian dan nasehat-nasehat tentang ajaran agama Islam. Semua jenis kesenian di atas dipelajari di ISI Padangpanjang.




Berikut ini nama-nama  dan bentuk dari  ragam jenis  musik tradisi Minang Minangkabau (Karawitan)












 






  1. gandang                              2. talempong                         3. pupuik batang padi










 





4. bansi                          5. pupuik tanduak                             6. saluang









 








         7. rebab darek                        8. rebab pariaman             9. rebab pesisir










 





    10. Gandang sarunai          11. gandang tambur  (tabuik)       12. gandang melayu













 





        13. rabano                              14. dulang                               16. rafa’i











 





              17. oguang                     18. talempong sembilu    19.  talempong duduak












 





     20. sampelong               21. gandang dol                22. sarunai            23. canang











 







            24. tasa              25. cara memainkan tasa dan tambur     26. permainan tabuik







 




           
             27. Kecapi                 28.  talempong kayu                29. talempong bilah













 







                   30. Gambus                          31. gandang                         32. marwas


III
Musik Talempong

Sebagaimana yang sudah dijelaskan bahwa salah satu jenis kesenian tradisional Minangkabau yang sangat dominan adalah talempong. Biasanya permainan talempong ini disebut juga dengan istilah ensambel artinya perangkat alat-alat musik yang tergabung dalam permainan musik yang terdiri dari beberapa jenis instrumen.
Istilah talempong di Minangkabau  telah lama dikenal bahkan sudah menjadi identitas kedaerahan, namun umumnya orang (khususnya yang berada di luar etnis Minangkabau) hanya mengenal talempong sebagai suatu alat musik pukul berbentuk gong kecil yang terbuat dari campuran kuningan, timah dan tembaga. Pengertian yang tidak jauh berbeda juga ditemukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mengartikan talempong sebagai alat musik dari logam, perunggu atau besi berbentuk bundar (1991: 995). Sebenarnya di Minangkabau sendiri istilah talempong memiliki pengertian dengan cakupan beberapa jenis alat perkusi lain yang memiliki bentuk dan bahan yang berbeda dengan yang telah disebutkan di atas. Ditinjau dari segi bahan, selain logam ada talempong yang terbuat dari kayu, bambu dan batu. Sedangkan dilihat dari segi bentuk, selain dari bentuk gong juga ada yang berbentuk bilahan-bilahan (talempong kayu, talempong jao, talempong batuang).
Disamping keberagaman dari segi bentuk, ukuran dan jenis, talempong pun dapat dibedakan menurut cara permainannya. Menurut Boestanoel Arifin Adam secara umum talempong dapat dimainkan dengan dua cara yaitu dengan meletakkannya  di atas rea atau dengan cara dipacik (dipegang) (1986: 29-30).
Cara pertama talempong dimainkan dalam posisi duduk. Permainan talempong seperti ini dikenal dengan istilah talempong duduak (talempong duduk) atau talempong rea. Genre Talempong Duduak merupakan salah satu musik perkusi tradisional Minangkabau yang dimainkan secara melodius dalam posisi ‘duduk’ bersila atau bersimpuh. Permainan talempong duduak biasanya dimainkan oleh dua orang, dimana salah seorang memainkan motif dan seorang lagi memainkan paningkah (peningkah) berupa motif melodi yang berulang. Posisi duduk kedua pemain saling berdampingan. Pemain motif melodi biasanya bermain dengan satu tangan, namun terkadang dengan dua tangan bagi lagu-lagu tertentu. Sedangkan paningkah bermain dengan dua tangan. Ada kalanya posisi talempong diubah-ubah sesuai dengan lagu yang akan dimainkan. Unit alat musik yang dipakai dalam genre  ensambel ini cukup beragam, diantaranya ada yang memakai 5 atau 6 buah alat musik talempong yang diletakkan di atas rea (rak), ditambah dengan alat musik jenis gong berpencu yang disebut tawak-tawak (lebih kecil dari kempul) dan diantaranya ada juga yang menggunakan aguang  (gong berukuran lebih-kurang sebesar kempul); kemudian dilengkapi dengan 1 atau 2 buah gendang dua muka (double-headed cylindrical drum).  Walaupun terdapat beberapa perbedaan unit alat musiknya, namun secara musikal prinsip utama permainannya  adalah terletak pada permainan melodi unit talempong  yang bersifat initerative.  Repertoar lagunya juga memiliki tingkat kesulitan yang berbeda.

                                      Kelompok talempong duduak






Cara bermain talempong yang kedua adalah dengan dipacik atau dipegang. Bentuk permainan seperti ini dikenal dengan istilah talempong pacik. Permainan talempong pacik dimainkan oleh tiga orang dengan jumlah talempong yang dipakai antara 5 sampai 6 buah. Masing-masing pemain memegang satu atau dua talempong. Kedua talempong dipegang dengan tangan kiri dalam posisi vertikal. Satu talempong dijepit dengan ibu jari dan jari telunjuk, sedang satu talempong lagi digantungkan pada jari manis dan jari kelingking dalam posisi vertikal. Jari tengah berfungsi sebagai pembatas antara keduanya sehingga pada saat memainkan talempong tidak saling beradu dan bunyi yang dihasilkan akan lebih nyaring dan jernih. Jika tangan kiri berfungsi memegang talempong maka tangan kanan pemain berfungsi untuk memukul talempong dengan sebuah kayu kecil sepanjang 25 Cm.
Sebagaimana telah disebutkan di atas talempong pacik dimainkan oleh tiga orang pemain yang masing-masing memiliki tugas berbeda-beda. Ketiga pemain itu biasanya disebut dengan istilah anak, induak dan paningkah. Penamaan pemain ini bisa saja berbeda untuk setiap wilayah. Talempong Pacik di Minangkabau biasanya dimainkan dengan teknik interlocking, yaitu teknik permainan motif-motif ritem dari unit-unit alat musik yang saling isi mengisi satu sama lain dalam satu kesatuan irama yang diulang-ulang (ostinato).  Selain teknik interlocking ternyata Minangkabau juga memiliki sistem permainan talempong dengan teknik hocketing yang instrumentasi dan cara permainan alatnya sama dengan talempong pacik.
Ada dua jenis pola permainan Talempong Pacik yaitu pertama dengan posisi duduk,  kedua dengan posisi berdiri. Berikut ini gambar permainan talempong pacik.







Gambar 1 Bermain talempong pacik                 Gambar 2 Bermain Talempong Pacik
                 dengan duduk                                                 dengan  berdiri

Teknik memegang pemukul ialah, pemukul talempong dipegang dengan tangan yang satu lagi dengan menggunakan ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah. Pegangannya tidak kuat dan tidak pula terlalu longgar sehingga pemukul bisa digerakkan dengan mudah. Posisi pemukul adalah horizontal terhadap permukaan talempong. Tenaga yang dipakai ketika mengayunkan pemukul berasal dari pergelangan tangan yang berhubungan kontrol geraknya dari pangkal lengan, sehingga tangan dapat bergerak lebih cepat tanpa menimbulkan lelah.







                              Gambar  3   cara memegang pemukul talempong 
Gambar 1,2 dan 3 adalah Lukisan: Anshori Hidayat dalam Skripsi Nadya Fulzi 2002
 Selain talempong duduak dan talempong pacik ada lagi talempong kreasi. Talempong kreasi merupakan suatu upaya alternatif penikmatan musik talempong yang memasukkan konsep musik modern dan bisa dimainkan dengan teknik interlocking, hocketing dan melodis, sehingga dapat dipergunakan untuk memainkan lagu-lagu tradisi dan mengiringi lagu-lagu Minang modern. Adapun perangkat talempong kreasi terdiri dari 15 buah talempong sebagai melodi 8 buah canang sebagai ritme satu buah gandang dan alat tiup
Kelompok talempong pacik











 






  a. gandang                              b. talempong                         c. pupuik batang padi
                           
Selain talempong duduak dan talempong pacik ada lagi talempong kreasi. Talempong kreasi merupakan suatu upaya alternatif penikmatan musik talempong yang memasukkan konsep musik modern dan bisa dimainkan dengan teknik interlocking, hocketing dan melodis, sehingga dapat dipergunakan untuk memainkan lagu-lagu tradisi dan mengiringi lagu-lagu Minang modern. Adapun perangkat talempong kreasi terdiri dari 15 buah talempong sebagai melodi 8 buah canang sebagai ritme satu buah gandang dan alat tiup

Kelompok  talempong kreasi
Keterangan:
  1. talempong melodi
  2. talempong rendah
  3. talempong tinggi
  4. canang dasar
  5. canang tinggi
  6. dan 7. alat tiup (bansi, saluang dan sarunai)
8. gandang
Permainan talempong ini biasanya di pertunjukan dalam beberapa upacara adat antara lain:
1.      Upacara Batagak Pangulu, yaitu upacara peresmian penghulu baru sebagai pengganti penghulu lama yang sudah meninggal. Kadang-kadang upacara ini dilaksanakan secara bersamaan oleh beberapa kaum (suku) yang ada pada suatu nagari. Pelaksanaan upacara Batagak Pangulu diadakan di lapangan terbuka.  Kehadiran penyajian Talempong Pacik dalam konteks upacara ini bukanlah sebagai bagian dari upacara, tetapi berperan sebagai hiburan untuk memeriahkan upacara, karena kesan musikal Talempong Pacik ialah membangun suasana ceria dan gembira.   Dalam konteks di atas perjalanan atau perarakan setiap rombongan penghulu baru yang datang dari rumah gadangnya masing-masing adalah diiringi dengan bunyi-bunyian Talempong Pacik sampai ke tempat pelaksanaan upacara; begitu juga suasananya ketika perjalanan pulang dari tempat upacara tersebut.
2.      Upacara Perarakan Panghulu Baru merupakan suatu kegiatan untuk memperkenalkan seorang penghulu baru kepada khalayak ramai dengan harapan bahwa gelarnya dipanggil oleh masyarakat karena dia telah didahulukan selangkah, dan ditinggikan seranting untuk memimpin masyarakat kaumnya sendiri.  Penghulu baru ini diarak pada ruas jalan utama di kampung dan ke pasar oleh beberapa orang pengikutnya yang mengenakan pakaian adat. Selama dalam perjalanan, kelompok prosesi ini dimeriahkan dengan bunyi-bunyian Talempong Pacik oleh musisi tradisional dari kaumnya sendiri.
3.      Upacara Helat Perkawinan ialah sebuah upacara yang sakral bernilai suci terhadap sepasang penganten yang telah bersetuju membangun rumah tangga mereka.  Penyajian bunyi-bunyian Talempong Pacik selalu dihadirkan pada setiap pelaksanaan upacara ini di rumah masing-masing para penganten.  Bahkan sekaligus ensambel musik trasional ini berfungsi untuk memeriahkan suasana perarakan pasangan penganten pergi ke rumah mertuanya. Sebagai hiburan di dalam rumah juga dimeriahkan dengan talempong duduak dan juga ada dengan talempong kreasi
Selain itu talempong juga dimainkan dalam konteks acara sosial yang dimeriahkan dengan bunyi-bunyian Talempong Pacik ialah:
1.      Kegiatan Sabik-iriak (panen padi) yaitu suatu kegiatan memanen padi pada sawah milik salah seorang keluarga saparuik yang dikerjakan secara bersama-sama oleh kaum lelaki saja.  Pada waktu iring-iringan para pekerja berangkat dari rumah menuju sawah, maka di sini Talempong Pacik dimainkan.  Begitu juga pada saat istirahat bekerja kembali bunyi-bunyian Talempong Pacik memberikan suasana ceria dan gembira sebagai hiburan letihnya bekerja. Setelah selesai sabik-iriak (panen) maka kembali tingkah Talempong Pacik memberikan suasana ceria/gembira mengiringi  iring-iringan para pekerja mengangkut --memikul dengan bahu atau menjujung di atas kepala—. menuju rumah keluarga pemilik sawah.
2.      Kegiatan Gotong Royong Jalan Kampung. Biasanya setiap akan masuk bulan Ramadhan masyarakat kampung mengadakan kegiatan gotong royong membersihkan jalan kampung.  Tujuannya adalah agar lebih senang perjalanan masyarakat menuju rumah ibadah untuk bersembahyang tarwih, dan tadarus bersama.  Dalam konteks kerja gotong royong inilah Talempong  Pacik memberikan hiburan sebagai perintang lelahnya masyarakat bekerja.
3.      Kegiatan Gotong Royong Menggali Tali-bandar (pengairan sawah).  Biasanya setiap akan melakukan turun ke sawah, maka masyarakat kampung turun bergotong royong membersihkan tali bandar terlebih dahulu.  Tujuannya adalah agar pengairan sawah menjadi lancar sehingga pertumbuhan padi di sawah tidak terganggu.  Dalam konteks kerja gotong royong tali bandar ini, kehadiran bunyi-bunyian Talempong  Pacik juga memiliki nilai tambah terhadap motivasi bekerja masyarakat.
4.      Acara Penyambutan Tamu Nagari dan Memeriahkan Upacara 17 Agustus. Biasanya hampir semua kelompok Talempong Pacik ikut tampil memeriahkan kedua acara ini. 
Selanjutnya konteks pertunjukan randai dan tari-tarian tradisional juga memerlukan keterlibatan Talempong Pacik dalam operasionalnya, sebagaimana uraian berikut:
1.      Acara Pertunjukan Teater Tradisional Randai merupakan salah satu hiburan primadona oleh masyarakat Minangkabau di desa-desa (kampung). Pada sore hari sebelum malam pertunjukannya, selalu diawali terlbih dahulu dengan pemberitahuan kepada khalayak ramai.  Di sini para tokoh primadona randai diarak dengan mobil keliling kampung, di mana perarakan ini diiringi dengan Talempong Pacik; artinya dalam aktivitas ini Talempong Pacik berfungsi sebagai sarana pemberitahuan.  Begitu juga sewaktu para pemain randai berarak dari rumah tempat menukar kostum menuju lokasi tempat pertunjukan adalah juga diiringi dengan bunyi-bunyian Talempong Pacik.  Selanjutnya Talempong Pacik juga disajikan pada waktu istirahatnya permainan randai. 
2.      Acara  Pertunjukan Tari-tari Tradisional pada berbagai konteksnya.  Tari-tari yang mesti bermitra dengan komposisi musik Talempong Pacik di antaranya tari piring, tari sewah, dan tari galombang.  Di sini bunyi-bunyian Talempong Pacik berperan sebagai background ritmis saja, karena tari-tarian tradisional ini hanya memerlukan dukungan rasa aksen dan suasana musikal dari ensambel Talempong Pacik; artinya motif-motif gerak tari tidak terikat secara penuh dengan  garapan motif-motif ritmis dan melodi dari bangunan komposisi musik Talempong Pacik tersebut.
Selain talempong dendang di Minangkabau merupakan kesenian vokal yang hampir merata di dapati pada setiap nagari.  Biasanya setiap kesenian tradisi selalu diiringi dendang seperti saluang dendang, rabab, indang, salawat dan sebagainya, termasuk dendang-dendang dalam randai.







IV

Sebagai kesimpulan bahwa kesenian talempong  dan dendang merupakan kesenian  yang sangat dominan dalam masyarakat Minangkabau terutama  yang berhubungan dengan upacara adat. Mempejari talempong merupakan langkah awal untuk mengenal kesenian tardisional kita dan mempunyai pola permainan yang tidak begitu sulit untuk dipelajari oleh siswa mulai dari SD, SLTP dan SLTA. 
Untuk itu kepada siswa-siswa belajarlah mencintai kesenian kita sendiri dengan demikian bisa mencintai budaya kita sendiri.

           Padangpanjang 20 Juli 2010
Pelaksana Pengabdian Pada Masyarakat


              Syafniati S.Sen M.Sn
       NIP. 19610311 198603 2001














[1] Dosen ISI Padang Panjang Jurusan Seni Karawitan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar