Selasa, 06 Desember 2011

Pelatihan Penerapan Motif Tradisional Minangkabau Dalam Upaya Peningkatan Kreativitas Para Perajin Dalam Dunia Usaha Sulaman Dan Bordir Di Enam Korong Duku Kenegarian Pilubang Kec. Sungai Limau Kab. Padangpariaman

Pelaksana/Penulis : Zairul, S.Sn., Rahmad Washinton, P. S.Sn. M.Sn
Publisher : Ayurizal, S.Sn
 BAB I
PENDAHULUAN


A. Analisis Situasi   

            Kerajinan sulaman merupakan salah satu hasil kerajinan tradisional khas Minangkabau yang mempunyai ciri dan karakter tersendiri dari sulaman yang ada di Indonesia seperti ragam hias yang terdapat dalam produk sulaman. Motif-motif  yang digunakan oleh perajin sulam Minangkabau pada produk kerajinan pada umumnya mempunyai nilai saling keterkaitan antara motif dengan kegunaan dari produk sendiri itu.
Pelatihan dan penyuluhan ornmen dalam upaya peningkatan kreatifitas seni tradisi melayu bagi para perajin di enam Jrong Kenagarian Pilubang Kec. Sungai Limau Kabupaten Padang pariaman yang merupakan kegiatan yang berhubugan dengan pengabdian kepada masyarakat. Pelatihan penerapan motif tradisional ini memberikan pengetahuan, apresiasi, motifasi, untuk lebih dekat dan cinta akan budaya tradisional Minangkabau yang merupakan potensi seni yang ada di Sumatera Barat. Pelatihan pembuatan dan penerapan ornament tradisional ini bertujuan untuk meningkatkan kreativitas perajin di dalam membuat produk sulaman dan bordir yang lebih berfariasi dengan motif yang memiliki ciri khas Minangkabau.
Para pengrajin sulaman dan bordir di Enam Jorong kebanyakan kaki tangan atau bawahan dari para perajin sulaman dan bordir di Naras Pariaman yang menjadi sumber dari pengambilan kerja sulaman dan bordir. Ragam hias sulaman Enam Jorong bercorak flora dan fauna yang diterapkan pada baju kurung, selendang, permukaan kelambu untuk pengantin baru, dan bentuk-bentuk produk lainnya.
Produk seni kerajinan sulam yang ada di Naras sampai enam jorong pada awalnya motif yang diterapkan berorientasi pada alam, tapi sekarang motif Minangkabau telah mulai ditinggalkan, dan menerapkan ragam hias hasil ciptaannya sendiri. Mereka tidak mengambil dari ragam hias Minangkabau yang sudah ada. Dengan melihat situasi tersebut kiranya perlu untuk melakukan pelatihan dan penyuluhan kepada para perajin sulam dan bordir di Enam Jorong mengenai ragam hias Minangkabau. Yang bertujuan untuk menerapkan kembali motif Minangkabau sebagai motif sulaman pada produk yang mereka buat dengan melakukan pengembangan dengan tidak merobah makna motif yang telah ada. Diterapkan kembali motif Minangkabau pada seni kerajinan sulam Koto Gadang akan memperlihatkan ciri khas dari produk para perajin Minangkabau.

B. Tinjauan Pustaka   
Tinjauan Pustaka ini dilakukan untuk menelaah berbagai sumber yang ada relevansinya dengan pengabdian pada masyarakat yang akan dilakukan. Dalam hal ini, bertujuan untuk memfokuskan tujuan dan manfaat pengabdian.

Sejarah perkembangan sulaman secara umum dan khusus di Sumatra Barat, dapat dibaca dalam bukunya Aswar (1999) berjudul “Antakesuma Suji Dalam Adat Minangkabau”. Buku ini memaparkan penerapan beberapa sulaman dalam perangkat adat, serta makna lambang dan fungsi hiasan. Buku ini juga menjelaskan bahwa pada intinya seni kerajinan sulam di Minangkabau dikarenakan adanya hubungan dagang dengan negeri Cina yang dimulai sejak zaman Sriwijaya abad ke 7.
Buku yang berjudul “Indonesia Indah Kain-kain Nontenun Indonesia”, karangan Affendi (1995), mengulas jenis-jenis seni kerajinan tekstil tradisional di Indonesia, di antaranya seni kerajinan sulam di Sumatra Barat. Ia membahas jenis dan teknik menyulam di beberapa daerah di Sumatra Barat. Dalam buku yang lain dibahas teknik menghias kain agar lebih indah, baik untuk pakaian maupun interior rumah tangga yang terdapat dalam buku Teknik-teknik Menghias Busana dan Lenan Rumah Tangga, karya Yusmerita (1992). Ia memaparkan jenis tusuk hias dan penerapannya pada tekstil, seperti terawang dan jahit smock. 
Buku berjudul “450 Contoh Sulaman” yang ditulis oleh Snook (1996) mengulas beragam teknik sulaman atau tusuk hias, seperti tusuk pipih, tusuk peston, tusuk rantai, dan lain-lain, yang diterangkan dengan jelas. Pada setiap contoh tusuk yang disajikan disertai gambar sehingga mudah dimengerti oleh penikmat. Kemudian, buku berjudul Seni Kreatif dan Terampil Berkreasi Dengan Benang yang ditulis Soerjono (1997), menjelaskan tentang berbagai macam jenis benang yang baik, yang dapat dipakai untuk membuat sulaman, antara lain benang katun, mauline, benang katun perl, benang katun bordir, dan benang yang lainnya.
Dalam bukunya Jumanta (2004) yang berjudul “Pola Bunga untuk Sulaman dan Bordir”, menjelaskan tentang teknikdan bordir serta sejarah bordir di samping itu juga dijelaskan proses pengerjaan teknik sulaman dan bordir serta dilengkapi alat, warna dan sulaman dan bordir.
Dalam bukunya Abdul Wachid, dkk (1997) yang berjudul “Hj. Rosma dan Nukilan Bordir Sumatera Barat”, menjelaskan tentang beberapa karya bordiran dan sulaman tangan yang motifnya sarat simbolis dan terkait makna dengan spritual Minangkabau.  Buku ini juga menjelaskan tentang bahan, teknik, alat dan motif, serta cara kerja dan hubungan kerajinan tangan dengan adat Minangkabau.
Dalam buku Sanny Poespo (2002) yang berjudul “Kebaya Modern” menjelaskan tentang kebaya sebagai busana bagi perempuan Indonesia yang begitu anggun, cantik, dengan hiasan tangan atau bordiran yang memberi kesan makna estetis dalam penampilannya. Di samping itu dijelaskan penggambaran pola-pola yang menyangkut desain dan teknik sulaman tangan dan bordir.
Dalam bukunya Van Der Hoop (1994) yang berjudul “ Indonesische Siermotieven Ragam-ragam Hias Indonesian Ornamental Design, Dijelaskan mengenai berbagai ornamen baik dari ragam hias ilmu ukur, ragam hias manusia, binatang, tanaman, dan sebagainya yang terdapat di Indonesia yang diterapkan pada tenunan, ukiran kayu, logam, bangunan candi maupun benda-benda untuk keperluan sehari-hari. 
C.  Identifikasi dan Perumusan Masalah 
Berkaitan dengan kegiatan pelatihan  penerapan motif tradisional Minangkabau dalam upaya peningkatan  kreatifitas perajin dunia usaha sulaman dan bordir di Enam Jorong Korong Duku Kanagarian Pilubang Kecamatan Sungai Limau Kabupaten Padang Pariaman, ada beberapa permasalahan yang dapat diidentifikasi sebagai berikut:
1.       Apresiasi para perajin sulam Enam Jorong terhadap motif tradisional Minangkabau masih rendah
2.       Pengalaman dan pengetahuan para perajin mengenai motif tradisional Minangkabau dan pembuatan produk mereka hasilkan masih harus dibina dan diberi semangat agar kemampuan yang masyarakat miliki  dapat bertahan terus dalam dunia usaha. 
D. Tujuan Kegiatan  
      Adapun yang menjadi tujuan dari pelatihan dan penyuluhan bagi para perajin dalam usaha sulaman dan bordir di Enam Jorong Korong Duku Kanagarian Pilubang Kecamatan Sungai Limau Kabupaten Padang Pariaman adalah:
  1. Meningkatkan pengetahuan, apresiasi dan motifasi para perajin sulam terhadap ornamen tradisional Minangkabau sebagai ciri khas suatu daerah.
  2. Meningkatkan keterampilan para perajin sulam ddan bordir dalam berolah rupa baik teknis, metode dengan mempraktekkan secara langsung bentuk-bentuk ornamen tradisi.
  3. Agar masyarakat dan para perajin lebih mencintai budayanya sendiri secara dekat dan pentingnya pelestarian budaya daerah.
E. Manfaat Kegiatan       
Manfaat dari kegiatan pelatihan dan penyuluhan ini adalah:
  1. Meningkatkan apresiasi, kreativitas, motivasi, para perajin terhadap potensi seni dan secara langsung bisa mengaplikasikan terhadap produk yang dihasilkan.
  2. Dari aspek sosial dan budaya, masyarakat diharapkan lebih kenal dekat dengan budayanya dan merasa memiliki sekaligus dalam pelestarikan budaya.
  3. Dengan adanya mempraktekkan pembuatan ornament tradisional Minangkabau dengan sentuhan estetik. Sehingga apa yang mereka dapatkan menjadi suatu yang berharga bagi pengembangan bakat yang dimiliki bisa tersalurkan dalam dunia usaha mereka.

F. Kerangka Pemecahan Masalah   
Untuk memecahkan masalah yang terdapat dalam kegiatan pelatihan dan peyuluhan dalam menerapkan ornamen tradisional adalah sebagai berikut:
  1. Menjelaskan tentang perlunya pengembangan (inovasi) dan pelestarian ornament tradisional  Minangkabau.
  2. Memberikan keterampilan dalam pembuatan desain produk dan motif minangkabau.
  3. Memberikan keterampilan pada pengrajin dengan cara melatih secara langsung cara pembuatan produk dan penerapan motif tradisi Minangkabau.
  4. Memberikan penjelasan mengenai ornament tradisional Minangkabau dan makna dari setiap motif Minangkabau itu sendiri.

G. Khalayak Sasaran   
Khalayak sasaran yang dianggap mampu dan mau untuk dilibatkan dalam kegiatan pelatihan dan penyuluhan mengenai ornament tradisional ini adalah para perajin sulam yang ada di Enam Jorong Korong Duku Kanagarian Pilubang Kecamatan Sungai Limau Kabupaten Padang Pariaman guna kelancaran usahanya yang menyangkut bidang seni rupa.

BAB II
MATERI DAN METODE PELAKSANAAN  

A. Kerangka Pemecahan Masalah  
Untuk memecahkan masalah yang terdapat dalam kegiatan pelatihan dan penyuluhan dalam upaya menerapkan ornamen tradisional adalah sebagai berikut:
  1. Menjelaskan tentang perlunya pengembangan (inovatif) dan pelestariaan motif tradisional Minangkabau.
  2. Memberikan penjelasan mengenai motif tradisional Minangkabau dan makna yang terkandung dari setiap motif Minangkabau itu sendiri.
  3. Memberikan keterampilan dalam pembuatan desain produk dan motif Minangkabau
  4. Mempraktekkan langsung cara pembuatan produk dan penerapan motif Minangkabau pada sulaman.  
B. Realisasi Pemecahan Masalah  
     1. Para perajin memahami akan pentingnya pengembangan (inovatif) dan pelestarian motif tradisional Minangkabau. 
     2. Perajin telah mengetahui apa makna yang terkandung dari setiap motif Minangkabau yang ada pada kain sulam.
      3.  Perajin mampu membuat produk dan motif Minangkabau
       4.   Perajin bisa menerapkan motif tradisional Minangkabau ke produk sulaman dan bordir yang dihasilkan.  
C. Metode yang digunakan   
            Metode yang digunakan dalam kegiatan pelatihan dan penyuluhan adalah sebagai berikut:
  1. Penyuluhan kepada para perajin yang dilakukan dengan cara :
a.      Memberikan penjelasan kepada para perajin tentang pentingnya mengetahui dan menerapkan kembali ornament tradisional Minangkabau sebagai ciri khas daerah.
b.      Menjelaskan kepada para perajin mengenai makna dari masing-masing motif Minangkabau dan kaitannya dengan kehidupan dalam bermasyarakat
c.       Memberikan dasar-dasar tentang keterampilan dan aplikasi untuk menciptakan karya yang kreatif dan inovatif sehingga layak dan diminati oleh konsumen.
  1. Praktek pelatihan pembuatan ornament tradisional Minangkabau  
            Pembuatan motif tradisional Minangkabau dilakukan dengan cara memberi kesempatan bagi para perajin untuk mengaplikasikan atau menerapkan motif Minangkabau yang telah diberikan sesuai dengan bentuk produk sulaman dan border yang mereka hasilkan. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar